Seluruh produk kami sifatnya pre-order, anda tidak perlu melakukan pembayaran saat melakukan pesanan. Cukup cantumkan keterangan pesanan, lalu kami akan segera menghubungi anda paling lambat 1x24 jam.

Silakan login dulu agar semakin mudah dalam bertransaksi.

Cara Mudah Bikin Skripsi Pakai ChatGPT, Ellicit AI, atau Som AI.

Yo, Sobat Millenial! Kita bakal ngobrolin sesuatu yang lagi nge-trend banget di kalangan anak kuliahan, yaitu Ellicit AI, Som AI, sama ChatGPT. Sebelum kita deep dive ke dalam bahayanya menulis skripsi pakai bantuan AI, yuk kita kenalan dulu sama ketiga tools canggih ini yang bisa bikin tugas kampus jadi kayak main-main.

Kenalin, Si Ellicit AI, Som AI, dan ChatGPT

Jadi gini, Ellicit AI itu kayak assistant pribadi lo buat nyari literatur penelitian. Bayangin aja, lo cuma perlu ketik topik yang mau digali, terus bam! Dia langsung nyuguhin lo segudang paper yang related. Efisien? Banget! Tapi inget, paham konten dan contextnya tetep jadi PR lo.

Lanjut ke Som AI. Gak kalah cool, ini adalah artificial intelligence yang bisa lo manfaatin buat nganalisis data. Bayangin lo punya tumpukan data kayak gunung, terus Som AI ini bisa ngebantu lo sortir yang penting-penting aja. Canggih kan? Tapi, gak semua yang kilat itu emas, bro. Lo tetep harus kritis sama hasilnya.

Trus, ada si kece yang lagi hot-hotnya diantara mahasiswa dan anak IT, ChatGPT. Ini adalah AI yang bisa diajak ngobrol asyik dan ngasih respon yang nyambung banget sama apa yang lo tanya. ChatGPT ini bisa jadi partner lo dalam menyusun kerangka skripsi, dari mulai brainstorming sampe nulis draft. Mantul, kan?

Nah, Ini Bahayanya Pake AI Pas Nulis Skripsi

Originalitas Karya Jadi Taruhan

Ketika lo gunain AI kayak Ellicit AI, Som AI, atau ChatGPT buat ngerjain skripsi, lo mungkin lupa bahwa skripsi itu bukan cuma kumpulan data atau info yang lo temuin. Skripsi itu harus menunjukkin pemikiran lo sendiri, argumentasi lo, dan cara lo solve masalah. Pake AI risikonya bisa bikin karya lo jadi kayak copy-paste ide orang lain yang dikemas ulang. Lo gak mau kan, pas sidang, denger kata-kata “Ini skripsimu atau skripsi AI?”

Kemampuan Analisis Lo Bisa Stagnan

Kalo lo terus-terusan ngandelin AI buat ngolah data atau nyari referensi, bisa-bisa skill analisis lo jadi gak berkembang, bro. Lo gak akan pernah tahu gimana rasanya struggle nyari data yang relevan dan susah-susah nganalisis secara manual, yang mana ini penting buat pertumbuhan intelektual lo.

Kredibilitas Akademik Lo Dipertanyakan

Universitas di Indonesia itu strict, bro, sama yang namanya keaslian karya. Pake AI bisa bikin dosen atau reviewer curiga tentang keaslian skripsi lo. Sekali lo kecaught, reputasi akademik lo bisa ancur. Lo mau dapet gelar sarjana karena usaha sendiri, atau karena ‘usaha’ AI?

Kehilangan Learning Experience

Proses nulis skripsi itu kayak rollercoaster, ada suka dukanya. Tapi, dari situlah lo belajar. Dengan AI yang ngasih shortcut, lo bisa kehilangan learning experience tersebut. Gak ada lagi cerita susah payah ngumpulin data, begadang ngerjain analisis, yang semua itu sebenarnya membentuk lo jadi pribadi yang tangguh.

Risiko Ketergantungan

Ketergantungan sama AI buat ngerjain skripsi itu ibaratnya lo terus-terusan minum vitamin tanpa olahraga. Jangka panjangnya, bisa bikin lo tergantung dan gak bisa kerja tanpa bantuan AI lagi. Skill lo gak akan tajam, dan itu bisa jadi bumerang buat karir lo di masa depan.

Etika Akademik Jadi Taruhannya

Dunia akademis itu ngutamain etika, bro. Ngerjain skripsi pake AI bisa jadi bentuk kecurangan akademik, karena lo gak fully transparent tentang cara lo dapetin hasilnya. Dosen lo bakalan kecewa banget kalo tau lo ambil jalan pintas.

Data Security dan Privacy Issues

Ketika lo masukin data penelitian ke dalam AI kayak Som AI atau pake Ellicit AI buat nyari referensi, lo secara gak langsung share data yang mungkin sensitif. Privacy dan security data lo bisa jadi taruhan, karena di era digital, data itu kayak emas digital, bro.

Kehilangan Kesempatan Publikasi

Biasanya, skripsi yang bagus dan original itu punya potensi buat di-publish di jurnal ilmiah. Kalo lo pake AI, potensi ini bisa ilang karena hasil kerja lo gak sepenuhnya original. Coba bayangin, lo punya kesempatan buat dipublish tapi karena ‘hasil kerja AI’, kesempatan itu lenyap.

Jadi, intinya, AI itu kayak pisau bermata dua. Di satu sisi, AI kayak Ellicit AI, Som AI, dan ChatGPT bisa mempermudah proses riset dan penulisan skripsi lo. Tapi di sisi lain, ketergantungan sama AI bisa bikin banyak aspek penting dalam pembelajaran akademik lo terabaikan.

Moral of the story, bro sis, gunakanlah AI secara bijak. Jangan sampai karena pengen cepet selesai, lo jadi mengorbankan proses pembelajaran yang sebenernya. Skripsi itu bukan cuma tentang dapetin gelar, tapi tentang growth lo sebagai seorang akademisi dan profesional di masa depan. Stay smart, jadiin AI sebagai alat, bukan sebagai jalan pintas. Dan ingat, kejujuran dalam akademik itu priceless, gak ada AI yang bisa ngukur itu. Keep it real, and let’s hit the books!